Etika Mahasiswa masa kini, dan Proses Kaderisasi

“Assalamualikum kak, maaf sebelumnya saya followers mata kuliah listening comprehension 2. Kami kemarin tidak Final karena terlambat dapat infonya. Jadi bagaimana kak ? TOLONG KONFIRMASINYA”

Pesan singkat dari salah seorang mahasiswa yang tidak ikut final dengan alasan terlambat dapat informasi seakan memancing emosi saya, untung saat itu saya lagi menunaikan ibadah puasa, ibadah yang wajib dilaksanakan orang muslim pada bulan suci ramadhan.

Kalau ditelaah baik-baik isi pesan itu membuat saya merasa sedikit kecewa. Bagaimana tidak, saya yang menempatkan diri sebagai orang tua sekaligus kakak mereka dikampus mendapat perlakuan yang menurut saya tidak menghargai orang yang lebih tua. Mereka lebih cendrung menganggap para dosen mereka sebagai teman sejahwat.

Akan tetapi saya berusaha berpikiran positif mungkin pemilihan redaksi kata-kata mereka yang kurang tepat.

Hal seperti ini bukan kali pertama saya dapatkan. Pernah ada yang mengirimkan pesan singkat “Mau jki masuk pak? Bls GPL”. Saat itu kesalahan itupun tidak bisa saya tolerir bukan karena mau dikata sebagai “dosen killer” tetapi menurut saya bagaimana kalau hal yang sama mereka lakukan juga ke dosen-dosen lain yang lebih senior, sudah habis mereka!.

Bahkan, ada beberapa mahasiswa yang tak malu hanya menanyakan kabar ataupun sekadar ucapan “selamat malam”, “belum pki tidur pak?”. Padahal dosen mereka itu sudah berkeluarga tapi maaf, mereka masih saja genit untuk mengganggu dosen-dosen mereka. Mungkin mereka menganggap dengan modus mereka bisa dekat dosen-dosen dan mendapatkan nilai yang bagus. Mereka tidak sadar bahwa pesan singkat seperti itu dapat merusak rumah tangga dosennya, bisa membuat pertengkaran rumah tangga dosennya.

Memang etika mahasiswa sudah jauh berbeda ketika saat saya masih berstatus seperti mereka. Kami dulu betul-betul takut dengan yang namanya “Dosen”. Untuk menelpon pun kami merasa segan bahkan hanya sekadar mengirim pesan singkat harus kami pikir matang-matang, utamanya redaksi atau pemilihan kata. Kami selalu takut jangan sampai karena pesan singkat kami membuat dosen tersinggung dan kami kena hukuman.

Beberapa dosen senior yang sempat saya temui mengaku pernah mendapatkan perlakuan seperti itu dari mahasiswa mereka, utamanya pesan singkat yang membuat para dosen-dosen ini naik darah. “Beginimi ini mahasiswa, dia samakan ki dengan teman-temannya. Masa SMS pake” balas gak pake lama”. Emangnya kamu sapa” cetus salah seorang dosen senior dikampus tempat saya mengabdikan diri. Ya, memang kebanyakan kasus seperti itu redaksi kata dari mahasiswa ke dosennya kurang tepat.

“Begini mi kalau tidak di kader ki tidak takutmi sama dosennya” tambah dosen tersebut.

Memang saya akui proses kaderisasi mempunyai faktor kuat dalam membentuk etika mahasiswa. Teringat waktu saya masih mahasiswa baru tahun 2008, proses kaderisasi dilalui dengan begitu keras. Bentakan dari kakak senior menjadi makanan hari-hari saat itu dan tak jarang pula kontak fisik pun sering kami dapatkan ketika melakukan kesalahan. 10 hari saya lewati bersama dengan teman-teman angkatan saat itu benar-benar menjadi pembelajaraan hidup berharga. Semua yang kami dapatkan seakan-akan mengajarkan kami untuk menghormati dan menghargai orang yang lebih tua dari pada kami. Selepas masa pengkaderan pun kami tetap membawa budaya “tabe” (kata yang sering digunakan karena segan dan menghargai orang lain) masuk kedalam kampus, “tabe senior” kata yang sering saya ucapkan bersama teman-teman saya ketika menemui ataupun sekedar bertegur sapa dengan senior kami.

Sekarang, budaya itu seakan-akan terkikis karena kurang maksimalnya proses kaderisasi. Kebanyakan kampus-kampus dimakassar sudah melarang kegiatan-kegiatan kaderisasi, seperti ospek,bina akrab dll. Akibatnya mahasiswa sekarang sudah tak segan-segan lagi kepada orang yang lebih tua dari pada mereka, tak menghargai lagi dosen-dosen mereka. Tak jarang sering terjadi mahasiswa mengancam dosen mereka dengan senjata tajam, berteriak-teriak saat dosen mereka lewat, bahkan merusak kendaaran dosen mereka.

Degradasi etika seperti ini kalau tidak segera diobati akan menjadi penyakit yang menular dan turun temurun. Dan satu-satunya cara menurut saya aktifkan kembali proses kaderisasi kampus.

“Tulisan ini saya persembahkan khusus buat mahasiswa yang SMS saya kemarin sore”

Iklan

5 pemikiran pada “Etika Mahasiswa masa kini, dan Proses Kaderisasi

  1. Ping balik: #BatuSekam; Ian

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s