Catatan Perjalanan : Bulu Tellue, Kampung Buung Kabupaten Pangkep [Hari Kedua]

Hari kedua saat kami berada di Kampung Buung kabupaten pangkep.

Setelah menghabiskan waktu semalaman dirumah ibu condong. Keesokan harinya kami bergegas untuk melanjutkan tujuan kami datang di kampung buung pangkep. Sembari menunggu teman-teman yang lain mandi dan dandan saya keluar menikmati indahnya suguhan alam kampung ini. Udaranya yang dingin serta hamparan sawah yang sangat luas menjadi kenikmatan sendiri bagi saya. Maklum saya lahir dan besar dikota Makassar, pemandangan seperti itu sangat jarang saya rasakan.

Sehabis berpamitan dengan keluarga ibu Condong, kami kemudian menuju ke SD 60 Bung. Ini adalah satu-satunya sekolah dasar yang dimiliki kampung ini. Sekolah yang bersatu atap dengan SMP 4 Minasetene ini, memiliki jumlah siswa sebanyak 61 orang padahal jumlah rumah penduduk dikampung ini hanya sekitar kurang lebih 10 rumah. Lantas darimana siswa-siswi ini?

Ketika kami tiba di SD 60 Buung, suasana sekolah sangat sepi. Yang ada hanya sekumpulan warga sedang bergotong royong membangun masjid untuk warga setempat. Ternyata hari itu aktifitas sekolah diliburkan karena hari itu adalah hari libur nasional.

11072533_943397129004446_5160114412763954110_n

SD 60 Bung (dokumentasi pribadi)

Namun, beruntunglah kami dapat sedikit informasi dari Pak Ari selaku ketua RW setempat. Ia mengatakan sekolah ini memiliki jumlah siswa sebanyak 61 orang sedangkan jumlah rumah penduduk dikampung ini hanya sekitar kurang lebih 10 rumah. siswa-siswa banyak berdatangan dari gunung-gunung sebelah, jajaran gunung Bulu Tellue.

Menurutnya semenjak sekolah ini berdiri pada tahun 2007 anak-anak didaerahnya kembali mengenyam pendidikan. Padahal ditahun-tahun sebelumnya banyak dari penerus mereka putus sekolah dikarenakan sekolah dasar sangat jauh dari daerahnya butuh waktu berjam-jam dengan harus berjalan kaki naik turun gunung.

Kemudian Pak Ari menjelaskan tentang kondisi tenaga pengajar disekolah tersebut. Ternyata para guru hampir tiap hari harus naik turun gunung dan berjalan kaki selama 2 jam untuk mengajar. Hal ini disebabkan karena para guru sudah bermukim dikota pangkep. “Rata-rata sudah berkeluarga mi semua, jadi pulang balekki kodong mengajar” kata Pak Ari.

Sontak kalimat dari pak Ari membuat saya kagum kepada guru-guru ini. Mereka rela menunaikan tugas mulia mereka untuk memberi pengetahuan kepada anak-anak kampung buung walaupun kondisi medan mengharuskan mereka berjalan kaki naik turun gunung tiap hari. Suatu hal yang sangat jauh berbeda dengan tenaga pengajar diperkotaan. Di kota, para guru tidak perlu untuk berjalan kaki ataukah naik turun gunung untuk mengajar tapi masih saja banyak dari mereka yang selalu mengeluh soal jarak sekolah dari rumah mereka.

*****

Didaerah ini juga sangat jauh dari perhatian pemerintah. Jangankan akses jalan untuk kendaraan, Listrik dan jaringan komunikasi belum ada, padahal di era sekarang listrik dan jaringan komunikasi boleh menjadi kebutuhan primer orang-orang diperkotaan.

Untuk kebutuhan warga, tak ada jalan lain selain turun gunung untuk membeli kebutuhan yang mereka perlukan. Inilah keunggulan warga kampung buung, budaya gotong royong masih mereka junjung. Informasi yang diperoleh dari Pak RW setempat, karena tidak adanya akses jalan untuk kendaraan, mengharuskan warga menggotong dari kaki gunung sampai kekampung mereka, padahal akses dari bawah begitu sulit, medan yang menanjak terus dan waktu tempuh selama 2 jam mereka lalui.

10408618_943736838970475_8189238332032735932_n

Perjalanan ke puncak bulu telleu pangkep (dokumentasi pribadi)

Setelah berdiskusi dengan pak RW, kami kemudian melanjutkan perjalanan mencari lokasi-lokasi yang cocok untuk dijadikan tempat traveling. Ada satu titik yang kami cari yaitu puncak gunung bulu tellue. Dengan berbekal informasi dari warga sekitar kami pun pergi ke puncak tersebut. Ditengah perjalanan kami menyepakati untuk beristirahat sambil mencari jalur yang tepat. Dua orang teman kami, Pimen dan Arwan menawarkan diri mencari jalur menuju puncak. Setelah menunggu kurang lebih 60 menit, mereka kembali dengan penuh keringat karena sempat salah jalur dan tersesat. Setelah mendapatkan beberapa informasi dari mereka, kami menyepakati untuk lanjut menuju puncak tersebut. “Salah-salahki klo nda sampe puncak kawan” kataku sambil menyemangati mereka.

Medan menuju puncak begitu berat memacu adrenalin kami, kami harus melewati punggungan gunung yang begitu rapuh. Kami harus berjalan sangat hati-hati dikarenakan melintasi pinggiran-pinggiran jurang. Beberapa temanpun sering terpeleset.

Begitu tiba dipuncak, senyum teman-temanku semangat lebar, tak jarang dari mereka mengeluarkan smartphone untuk mengabadikan momen itu. Memang sensasi berada dipuncak begitu luar biasa. Namun, keindahan pemandangan puncak saat itu ternodai dengan hancurnya gunung-gunung karst dikabupaten pangkep.

19791_943204649023694_2340089008900493193_n

Mengabadikan moment dipuncak bulu tellue (dokumentasi pribadi)

Setelah berfoto-foto dan istirahat sejenak, kami kembali pulang kerumah warga kampung buung tempat kami menginap. Ditengah perjalanan kami beberapa kali harus tersesat. Entah mungkin karena lupa memberi tanda atau memotong jalur kami tersesat di punggung gunung bulu tellue. Kami terus berputar-putar mencari jalur pulang namun tetap menemui jalan buntu. Untungnya pimen yang memang mahasiswa pencinta alam sudah terbiasa dengan situasi ini. Ia meminta kami untuk tidak panik dan tetap fokus.

Teriakan-teriakan khas anak gunung “piiiiuuuu” beberapa kali terdengar. Dalam benak saya, mungkin warga kampung buung datang mencari kami yang telah berjam-jam tidak kembali. Namun begitu membalas teriakan itu,tidak ada balasan kembali. Begitu seterusnya, sampai saya sempat mengingatkan kepada pimen untuk berhenti dan mencari sumber suara tersebut. Namun pimen menolaknya. Ia berkata “Janganmi bro, tidak ada juga tadi orang naik. Mending kita carimi jalur yang tadi kita lewati”.

Saya kemudian bertanya-tanya darimana asal suara itu,padahal memang tidak ada orang lain yang naik selain kelompok kami. Mungkinkah makhluk lain? Entahlah,yang dalam benak saya hanyalah mencari jalur untuk kembali pulang.

Setelah beberapa jam berputar-putar akhirnya kami kembali menemui jalur yang telah kami lewati. Memang seharusnya ketika hilang jalur, para pendaki sebaiknya terus berusaha untuk berpikir jernih tidak panik sehingga menimbulkan masalah-masalah baru. Dibutuhkan ketenangan dan kerjasama yang baik untuk menyelesaikan masalah ini.

Setelah sampai dikampung buung ,beberapa dari kami singgah di air terjun untuk menyegarkan badan dan beberapa perempuan pulang kerumah ibu condong untuk menyiapkan santap siang.Selesai santap siang, kami berpamitan untuk kembali kemakassar dengan janji akan kembali lagi kekampung tersebut memberi sedikit bantuan buat siswa-siswa kampung buung.

10408037_943736652303827_7687663898846091667_n

Perjalanan pulang kembali ke makassar (dokumentasi pribadi)

Iklan

4 pemikiran pada “Catatan Perjalanan : Bulu Tellue, Kampung Buung Kabupaten Pangkep [Hari Kedua]

  1. terima kasih banyak telah mengesposs sebuah cerita dan keindahan alam kampung kami, semoga ini dapat dibaca oleh penkab, dan segera membuka jalan dan menerangi kampung kami dgn listrik.. hanya saja mungkin perlu direvisi ulang, nama ibu yg tempat kalian nginap itu adalah Ibu Nur Asia (Cendong).. bukan condong(Botak dalam bahasa mksr pangkep), hehehehe…..

    Suka

  2. terima kasih banyak telah mengesposs sebuah cerita dan keindahan alam kampung kami, semoga ini dapat dibaca oleh penkab, dan segera membuka jalan dan menerangi kampung kami dgn listrik.. hanya saja mungkin perlu direvisi ulang, nama ibu yg tempat kalian nginap itu adalah Ibu Nur Asia (Cendong).. bukan condong(Botak dalam bahasa mksr pangkep), hehehehe…..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s