Dinamika Komunitas Edukasi Kota Makassar; Mencegah atau Mengobati ?

Kau bisa membayar orang untuk mengajar tapi kau tak bisa membayar mereka untuk peduli
(Marva Collins)

Kutipan dari seorang filsuf pendidikan asal amerika yang bisa menjadi gambaran tentang fenomena komunitas-komunitas kota Makassar.

Memang akhir-akhir ini potret kegiatan komunitas yang bergerak dibidang pendidikan dimakassar semakin banyak. Berbagai informasi kegiatan mereka seakan tidak pernah tenggelam ditimeline berbagai sosial media. Twitter menjadi sosial media yang paling sering dijadikan tempat mengampanyekan kegiatan teman-teman komunitas.

Dari pengamatan saya, kegiatan mereka kurang lebih memiliki genre yang sama, fokusnya ke sekolah dasar. Konsep mengajar yang diterapkan pun sangat jauh dari formalitas. Rata-rata dari mereka pula lebih tertarik membuat kegiatan didaerah pedalaman yang memang sangat jauh berbeda dari pendidikan diperkotaan. Dengan misi menyamaratakan apa yang teman-teman komunitas dapatkan dikota, termasuk memperkenalkan profesi-profesi yang mungkin terdengar sangat samar bagi adik-adik pedalaman.

Saya kemudian teringat dengan pengalaman pribadi teman yang menjadi volunteer dalam kegiatan salah satu komunitas dimakassar, salah satu kegiatan yang dimotori oleh mentri pendidikan, Anies Baswedan. Dengan nada yang riang, ia menceritakan bahwa kegiatan-kegiatan seperti ini perlu dilaksanakan ke berbagai sekolah-sekolah pedalaman. Pria yang sering mengabadikan moment-moment awan yang berbentuk tak lazim ini menambahkan bahwa kegiatan ini merupakan langkah yang tepat untuk memberi wawasan baru, apalagi mereka menginspirasi siswa dengan profesi yang mereka geluti. Suatu terobosan baru dalam dunia pendidikan Indonesia, katanya.

Bagi saya, kegiatan seperti itu tidak cocok untuk kalangan anak SD, karena saya percaya secara psikologis anak-anak diusia seperti itu hanya ingin bermain dan bermain. Jadi untuk dibebani dengan harapan-harapan yang tinggi saya rasa kurang tepat. Apalagi kegiatan Inspirasi seperti itu hanya dilakukan sehari, sehabis menginspirasi mereka dibiarkan tanpa arahan dari sang inspirator seperti kabel listrik yang putus dan ditinggal dibegitu saja.

Masalah belum selesai sampai disitu saja. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah bagaimana selanjutnya setelah program-program yang dijalankan selesai? Apakah masalah bisa terselesaikan?ataukah kita datang hanya memunculkan masalah baru?

Pertanyaan seperti diatas menghantui pikiran saya saat ini.

*****

Saya sempat berdiskusi dengan seorang yang boleh dikata sesepuh komunitas-komunitas Makassar. Lelakibugis, lelaki bujang yang senantiasa memberi banyak kontribusi untuk kegiatan-kegiatan komunitas di makassar. Mungkin saking aktifnya beliau berkomunitas jadi untuk urusan jodoh sampai sekarang belum ia dapatkan.

Melalui aplikasi chatting Line beliau berkomentar “Saya yakin tujuan teman2 komunitas semuanya baik. Hanya saja, tepat tidak apa yg mereka lakukan? Kekhawatiran saya adalah, teman2 menggunakan ‘mindset’ dan ‘kacamata’ sendiri saat membawa ‘bantuan’ ke sebuah tempat”.

Saya sependapat dengan yang beliau katakan. Banyak dari teman-teman komunitas datang dengan misi mereka masing-masing tanpa melakukan survey terlebih dahulu apa yang sebenarnya sangat dibutuhkan oleh mereka –siswa pedalaman-.

“Kacamata Sendiri” yang ia maksud juga adalah banyak dari kita memandang melalui pemahaman kita sendiri bahwa profesi yang ideal itu seperti profesi kita geluti saat ini ataupun materi yang tepat untuk diberikan kepada adik-adik pedalaman adalah mata pelajaran yang telah kita dapatkan di sekolah modern perkotaan

Saya merasa kita terlalu egois,hanya datang mengajak mereka untuk mengikuti apa yang telah kita kerjakan, mengajak mereka untuk menjadi apa yang kita inginkan. Kita pula mengenalkan profesi-profesi yang kita tekuni saat ini yang belum tentu mereka inginkan. Pernahkah teman-teman meniliti dampak setelah itu?

Fenomena lain yang saya temukan dilapangan adalah banyak teman-teman pengajar memberi ilmu yang setengah-setengah. Yang dimaksudkan setengah-setengah adalah ilmu yang diberikan masih memberikan banyak pertanyaan buat adik-adik yang diajar. Tidak tuntas!

Misalnya seorang volunter mengajarkan siswi perempuan untuk mengenakan hijab. Ia hanya menjelaskan seorang muslimah wajib berhijab karena perintah Tuhan dan wajib dilaksanakan. Tentu akan timbul kembali pertanyaan-pertanyaan logis dari siswi-siswi itu. Bukankah anak-anak dipenuhi rasa ingin tau? Bukankah anak-anak dipenuhi dengan rasa ingin tahu sejak lahir?

Adapula volunter lain yang menjelaskan kepada siswa agar menjaga hutan tetap hijau dengan dalih agar hutan tetap indah nan elok, tanpa menjelaskan lebih dalam lagi apabila hutan terjaga dan tetap hijau bisa meminimalisir longsor, udara tetap segar, pohon hijau sebagai sumber oksigen. Ilmu-ilmu yang mereka harus ketahui sejak dini.

*****

Dalam dialog pendidikan yang dilaksanakan oleh rumah baca philosophia beberapa hari lalu, muncul beberapa isu pendidikan oleh beberapa teman komunitas yang hadir yaitu akar permasalah kenapa pendidikan pedalaman tertinggal. Salah satu faktor yang menyebabkan adalah sumber daya setempat tidak pernah menjadi perhatian teman-teman komunitas. Padahal secara logis kalau SDM sekolah bagus pasti akan melahirkan sumber daya yang siap bersaing dengan anak-anak diperkotaan.

Selain SDM sekolah, permasalahan selanjutnya adalah pendidikan keluarga. Saya percaya rumah menjadi sekolah pertama bagi anak-anak untuk membentuk karakter mereka. Apabila anak-anak tidak mendapat pendidikan karakter dari keluarga mereka dirumah saya yakin akan terjadi degradasi moral bagi penerus bangsa ini. Karena guru disekolah tidak punya waktu 24 jam untuk mengontrol siswa mereka.

Jadi sebagai masukan untuk teman komunitas yang berada dijalur pendidikan agar kiranya membuat kegiatan tambahan untuk SDM sekolah dan Orang Tua siswa itu sendiri. Entahlah dalam bentuk seminar,workshop ataupun pendampingan bukan hanya fokus kepada siswa-siswa sekolah.

Saya disini bukan mau menggurui ataupun menghakimi. Namun mungkin sebaiknya beberapa komunitas yang sejenis itu menggelar muktamar untuk bersama-sama menyelaraskan ideologi gerakan atau aksi dan meluruskan pemahaman kita tentang isu-isu pendidikan agar teman-teman melahirkan sebuah upaya untuk menjawab isu-isu pendidikan dengan cara yang sublim dan bermakna.

*Tulisan ini pula sebagai jawaban untuk tantangan sambung kata kelas menulis KEPO*

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s