Merah Putih, Teruslah Kau Berkibar !

Agustus, bulan yang spesial bagi seluruh rakyat dan bangsa ini. Bulan yang dimana Indonesia diproklamirkan sebagai Negara yang merdeka oleh bapak Ir.Soekarno 70 tahun yang lalu.

Saya teringat saat masih anak ingusan di tiap bulan agustus. Saat itu hampir seluruh elemen masyarakat utamanya pemuda dan anak-anak sibuk mempersiapkan agenda perayaan hari kemerdekaan. Lomba-lomba yang bertaraf tradisional menjadi ajang yang paling kami tunggu saat itu. Sementara pemuda pemudi kompleks, sibuk mempersiapkan malam pesta rakyat, malam puncak pelaksanaan hari raya kemerdekaan. Para orang tua pun ikut disibukkan dalam perayaan hari kemerdekaan ini dengan aksi gotong royong membersihkan jalanan dan got kompleks.

Dari jauh-jauh hari sebelum 17 Agustus, warga kompleks sudah berlomba-lomba menaikkan bendera merah putih dirumah mereka masing-masing, Tak hanya bendara saja, umbul-umbul berwarna orange dan hijau menjadi teman setia bagi sang pusaka, bendera Merah Putih.Pokoknya saat bulan agustus rumah warga kompleks seakan berubah menjadi kantor-kantor resmi Negara. Mungkin ritual ini sebagai wujud kecintaan warga terhadap bangsa Indonesia.

Namun 3 tahun belakangan ritual-ritual dalam memperingati hari kemerdekaan semakin pudar, lomba-lomba dan pesta rakyat tidak pernah lagi dilaksanakan di kompleks saya, mungkin disebabkan karena 3 tahun belakangan hari kemerdekaan selalu bertepatan dengan bulan suci ramadhan, bulan spesial bagi warga muslim.

Sekarang, suasana 5-10 tahun yang lalu kembali hidup. Lomba-lomba kembali diadakan dikompleks saya. Sayangnya usia saya tak lagi memungkin untuk ikut perlombaan seperti itu. Rencana pelaksanaan pesta rakyat juga terdengar saat salah seorang panitia pelaksana datang kerumah untuk meminta partisipasi warga kompleks dalam memeriahkan pesta rakyat.

Tapi tetap ada yang kurang dalam pandangannya saya dalam melihat perayaan kemerdekaan tahun ini.

Beberapa hari yang lalu saat tepat jatuhnya hari pramuka, saya mencoba mengamati di tiap-tiap jalan yang saya lalui di kota Makassar. Saat hari menjelang perayaan kemerdekaan ini, masih banyak warga Negara belum mengibarkan bendera merah putih. Misalnya dibeberapa perumahan di daerah tamalanrea kota makassar. saya melihat masih banyak rumah yang belum menaikkan bendera Indonesia. Bahkan saya melihat warga dikompleks tersebut mayoritas warga Negara Indonesia dan berprofesi sebagai abdi Negara.

Begitu pula dikompleks rumah saya, dari jejeran puluhan rumah yang ada dan berpenghuni, hanya 2 rumah yang baru mengibarkan bendera merah putih, rumah saya dan rumah yang berada tepat setembok dengan rumah saya. Tak tahu mengapa sampai 2 hari menjelang hari kemerdekaan bendera Negara belum dikibarkan dihalaman rumah mereka.

Padahal mengibarkan bendera saat menjelang dan hari kemerdekaan itu sebagai wujud kecintaan kita kepada Bangsa dan Negara. Selain itu, ritual mengibarkan bendera dihalaman rumah dapat meningkatkan semangat juang bagi kita dan keluarga, juga dapat menanamkan rasa kepemilikan dan kebangsaan bagi anak-anak di rumah dan lingkungan sekitar.

Aturan tentang pengibaran bendera merah putih saat hari kemerdekaan telah diatur oleh pemerintah lewat Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Tahun 1958 tentang bendera bangsa republik Indonesia pasal 7 ayat 1 yang berbunyi bendera kebangsaan dikibarkan pada hari kemerdekaan 17 agustus.

saya kemudian berusaha mencoba menanyakan kepada salah seorang tetangga mengenai perihal tersebut. Ia mengatakan “dulu ji itu orang mengibarkan bendera karena merdeka mi, sekarang tidak karena tidak merdeka mki”. Kalimat itu membuat saya termenung dan saya berusaha meyakinkan diri bahwa ungkapan tetangga saya hanya untuk bahan tertawaan saja.

Kalau mencoba menganalisa statement tetangga saya, memang bangsa ini masih tak bisa lepas dari masalah-masalah yang besar atau tidaknya berdampak kepada rakyat dan belum bisa terselesaikan. Kita mulai dari narkoba yang efeknya sangat merusak generasi bangsa ini. Dari data yang dihimpun oleh BNN (Badan Narkotika Nasional), diperkirakan jumlah pengguna narkoba di Indonesia pada tahun 2015 mencapai 5,1 juta orang dan akan terus meningkat.Yang lebih parah lagi, sesuai data BNN jumlah pelajar SD yang memakai narkoba pada tahun 2011 telah mencapai 5.087 orang. Sudah menjadi kewajiban kita sebagai warga Negara untuk ikut menyelamatkan generasi kita dengan menyatakan perang terhadap narkoba.

Masalah bangsa selanjutnya adalah korupsi,siapa yang tak tahu dengan kasus korupsi bangsa ini ? Hampir tiap hari stasiun tv nasional selalu menayangkan kasus ini. Kasus yang mungkin sudah menjadi budaya bagi para pejabat negeri ini. Merujuk ke data Indonesia Corruption Watch (ICW) pada tahun 2014 ada 560 kasus korupsi dengan 1271 orang tersangka. Diperkirakan sepanjang tahun 2014, sekitar Rp 5,3 triliun uang raib disikiat para koruptor dan yang paling dirugikan adalah warga negara Indonesia yang membayar pajak karena uang-uang itulah yang sebagian besar menjadi santapan “tikus-tikus pengerat” tersebut.

Sebenarnya masih banyak lagi masalah-masalah besar yang dihadapi bangsa ini seperti kenaikan harga bbm, melonjaknya harga kebutuhan pokok, masih banyak anak-anak yang tidak sekolah, tidak meratanya pendidikan, jaminan kesehatan bagi rakyat. Namun peran pemerintah saja tidak serta merta dapat menyelesaikan segala masalah tersebut. Dibutuhkan peran serta masyarakat bangsa ini untuk bersama-sama bergotong royong membantu pemerintah.

Tapi apakah masyarakat mampu memberantas narkoba, memberantas korupsi dan membantu pemerintah dalam menyelesaikan masalah-masalah bangsa ini jikalau dalam hal kecil seperti mengibarkan bendera merah putih dihalaman rumah saat hari kemerdekaan tidak mampu kita laksanakan? ataukah masyarakat kita sudah melupakan perjuangan pahlawan dalam memerdekaan bangsa ini? Mungkin pula masyarakat kita sudah tidak cinta lagi bangsa ini? Mungkinkah semangat nasionalisme sudah hilang? Ataukah memang kita sudah tidak merdeka lagi?

 Dirgahayu republik Indonesia ke-70

Iklan

Satu pemikiran pada “Merah Putih, Teruslah Kau Berkibar !

  1. Ping balik: #BatuSekam : Muhammad Zia Ul Haq, bukan Jendral Pakistan. | Nur Al Marwah Asrul

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s