Kisah Seorang Mahasiswa Baru

Adnan Ilham, seorang pemain sepakbola berbakat dan sementara berstatus mahasiswa baru disalah satu universitas swasta di kota Makassar. Pertemuan saya dengan Adnan (sapaan akrabnya) mulai saat kami mengikuti kegiatan educamp oleh komunitas pajappa. Dia termasuk anak muda yang pandai bergaul bahkan dikalangan orang-orang yang mayoritas lebih tua dari dirinya.

Ia juga termasuk siswa paling bungsu kami di kelas menulis KEPO-kelas yang diinisiasi oleh beberapa teman-teman komunitas kreatif di Makassar-, bagi saya ini merupakan peluang terbesarnya untuk bisa melatih dan menambah softskill untuk dijadikan bekal hidupnya nanti.

Adnan juga  termasuk orang yang beruntung karena dia banyak dipertemukan dengan orang-orang yang memiliki banyak prestasi yang membanggakan dan sudah banyak merasakan asam manis kehidupan.  Ia seharusnya dapat belajar dari mereka. Apalagi untuk belajar, ia tidak perlu repot-repot untuk mengikuti kursus atau berguru di pulau jawa, cukup meminta waktu dan nongkrong bersama, saya yakin ia akan mendapat banyak pengalaman dan pelajaran baru.

Saya teringat saat masih diusia sepertinya, kebanyakan waktu saya terbuang oleh pergaulan yang tak ada manfaatnya. Nongkrong dimana-mana dan menghabiskan uang orang tua demi tuntutan gaya hidup. Predikat keren, anak gaul, anak distro-distro menjadi target hidup saat itu, hal yang saya sesalkan saat ini.

Situasi saat itu memang berbeda dengan sekarang. Ruang-ruang untuk membekali diri dengan softskill sangat jarang ditemukan, tidak seperti sekarang, ada banyak ruang yang tersedia untuk menimbah ilmu. Seperti halnya kelas menulis KEPO yang saat ini ditekuni oleh teman-teman lintas komunitas. Dulu kelas menulis ini tak pernah saya dengar. Begitu pula ruang-ruang untuk belajar fotography, videography, dan materi softskill lainnya.

Saya kurang beruntung karena untuk mengecap ilmu itu saat usia sudah mencapai 25 tahun, usia yang seharusnya sudah lebih produktif lagi dengan mengembangkan berbagai macam softskill.

*****

Semalam setelah pertemuan dengan teman-teman dari Indonesia Movement Project –salah satu NGO lokal kabupaten bulukumba-, Adnan,saya dan beberapa teman kelas di kelas menulis kepo menyempatkan diri berdiskusi sembari menghabiskan kopi yang telah kami pesan.

Adnan membuka diskusi malam itu dengan menanyakan perihal organisasi mahasiswa yang ingin ia tekuni karena memang ia akan resmi berstatus mahasiswa. Ia menyebut salah satu organisasi besar yang memang kencang dalam aksi parlemen jalan. Organisasi ini memang terbesar di hampir seluruh kampus di Makassar. Apalagi aksi parlemen jalannya, hampir ditiap aksi selalu terselip bendera kebesaran organisasi ini.

Saya dan beberapa teman-teman yang memang jauh lebih tua dari Adnan kemudian mencoba memberikan beberapa pandangan tentang organisasi tersebut. Sekali lagi, Adnan termasuk orang yang beruntung karena diusianya seperti sekarang ia bisa mendapat banyak masukan dari orang-orang yang lebih tua darinya.

Dengan  berbgai pandangan perihal aktifitas Adnan saat menjadi mahasiswa nanti, saya menyarankan Adnan sebaiknya untuk ikut lembaga mahasiswa yang lebih banyak mengembangkan softskill, organisasi yang misalnya membekali anggotanya dengan kemampuan menulis dan meniliti, kemampuan fotography dan videography. Apalagi program studi Adnan nantinya adalah jurnalistik. Saya kira kemampuan seperti itu sangat mendukung aktifitas perkuliahannya nanti.

Kami juga menyarankan Adnan nantinya untuk tidak ikut terlibat dalam aksi-aksi demontrasi, mengingat saat ini aksi-aksi seperti itu sudah bukan zamannya lagi. Apalagi sudah menjadi rahasia umum bahwa kebanyakan aksi-aksi mahasiswa saat ini sarat dengan kepentingan oknum tertentu. Mereka menjual idealism mahasiswa yang katanya mengatasnamakan rakyat itu.

Aksi demonstrasi memang juga perlu, tapi tidak seperti saat ini. Aksi mahasiswa tidak berlandaskan data yang kongkrit, mereka hanya tahu memblokade jalan dan orasi. Bahkan tak jarang berujung chaos dengan aparat serta oknum masyarakat.

Sebaiknya sebelum melakukan aksi demonstrasi, mahasiswa lebih banyak memakai cara yang intelektual. Intelektual yang saya maksudkan misalnya menyebar angket tentang isu-isu tertentu. Kemudian menganalisa angket tersebut, lalu hasil angket itu mereka presentasikan melalui media sosial. Lewat media sosial kita dapat mengiring isu dan opini untuk mendapat dukungan dari pihak manapun. Saya tak meragukan lagi efek media sosial seperti facebook dan twitter. Sudah terbukti pemerintah otoriter mesir runtuk akibat diskusi online lewat media sosial. Nantilah klimaks aksi dengan demonstrasi yang tertib. Yang tentunys tidak merugikan masyarakat.

Semoga Adnan kedepannya bisa banyak belajar dari pengalaman hidup para seniornya. Serta senantiasa menerima masukan dari orang yang lebih tua. Terakhir jadilah mahasiswa yang seimbang antara akademik, organisasi pula persoalan asmara. Berorganisasi juga penting karena karakter serta jaringan banyak terbangun lewat jalan itu. Tak lupa pula bekali dirimu softskill sedini mungkin, agar bekal hidupmu tak hanya dengan modal ijazah saja.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s