#Surat Untuk Albattar dan Aisyiah ; Hidup di kota itu…

Albattar dan Aisyiah…
Kalian tahu bagaimana rasanya hidup di perkotaan ? bagaimana rasa jenuh yang hampir tiap hari menghampiri ? bisa kalian bayangkan, jejeran kendaraan antri berjam-jam di jalan-jalan utama kota. Belum lagi, komplotan geng motor yang selalu meneror warga kota saat berkendara di malam hari. Kota itu ngeri sekaligus kejam dude.

Di pagi hingga petang hari kota itu begitu ramai nan bising. Saya khawatir kalian tidak bisa bermain dengan bebas dan lepas. Spot public space memang sangat minim di kota ini. Kalian jangan heran pun bertanya-tanya mengapa. Setahu saya kota ini memang dirancang menjadi kota yang memiliki gedung-gedung pencakar langit. Mungkin untuk mudah menikmati pemandangan dari ketinggian karena gunung-gunung telah habis untuk kepentingan reklamasi pantai.

Kota ini pula dulunya memiliki pantai nan indah. Kita bisa dengan mudahnya menikmati sunset. Kata orang-orang bule yang datang, “kalian beruntung tinggal di kota ini. Dengan mudahnya kalian bisa melihat jelas matahari yang terbenam bulat seperti itu. Kalian tahu untuk di negara kami, kami harus bepergian jauh dengan biaya yang tidak murah untuk menikmati sunset seperti ini”.

Namun semua warisan alam itu terancam. Pemerintah kota dan pengembang telah sepakat untuk menimbun pantai ini dan menjadikan kawasan ini sebagai hunian baru kaum elite – orang kaya. Gedung-gedung tinggi akan tak lama lagi akan berdiri dikawasan pantai ini. Gedung pencakar langit yang akan menghalangi orang-orang miskin seperti kita untuk menikmati sunset di kota ini.

Albattar dan Aisyiah…
Jangan pernah kalian bayangkan nantinya untuk piknik di taman hijau seperti yang kalian lihat di film-film eropa. Tempat seperti itu tidak ada di kota ini. Kalau kalian butuh hiburan, pemerintah telah menyiapkan Mall. Tempat yang dipenuhi dengan godaan gaya hidup. Memang tidak perlu repot lagi, kalau kalian lapar ada banyak pilihan menu makanan siap saji disana. Kalian haus banyak minuman-minuman ringan. Kita tidak perlu lagi membawa bekal seperti yang tergambar dalam film itu. Semuanya serba praktis. Tapi ingat, harganya juga fantastis.

Hidup di kota itu dibutuhkan mental yang kuat. Kalian harus siap dengan berbagai tantangan yang akan datang. Apalagi kota ini akan menjadi “kota pintar”. Jadi sudah menjadi keharusan kalian nantinya untuk menjadi warga kota yang benar-benar smart. Kalian harus menjadi warga yang taat aturan lalu lintas, tidak menjadi pengendara yang ugal-ugalan. Kalian pula harus tahu dimana membuang sampah. Jangan buang sampah seenaknya kalian saja, seperti orang-orang yang saya lihat. Sekolah mereka tinggi tapi tidak tahu harus buang sampah dimana.

Terakhir teruntuk Al dan Ais…
Nikmatilah masa kecil kalian nantinya dengan bermain sepuasnya. Janganlah pernah untuk meminta gadget. Itu belum kalian butuhkan. Kalian harus melestarikan permainan tradisional di kota ini. Ada banyak permaian yang asyik daripada game yang ada pada gadget itu. Main Enggo’-enggo’, baguli’, dende-dende, laying-layang, Bom, Asing, beklan, lompat karet, dan masih banyak lagi permainan yang dapat mengajarkan kalian tentang berkawan, bersosial, gotong royong, jujur, dan tentunya kalian berinteraksi langsung dengan teman-teman kalian nanti. Bukan dengan fokus pada layar kaca gadget itu.

Makassar, 13 September 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s