Idhul Adha Tahun Ini

Idhul Adha tahun ini terasa berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Dulunya, tiap terjadi perbedaan dalam penetapan hari raya antara pemerintah dan ormas islam muhammadiyah, kami -sekeluarga- memilih mengikuti putusan muhammadiyah. Ayah saya memang kader muhammadiyah dan sampai saat ini menjadi pengurus wilayah muhammadiyah Sulawesi selatan.

Tahun ini keluarga saya lebih memilih berlebaran sesuai putusan pemerintah. Ketika takbir berkumandang pagi hari, orang-orang di rumah malah bersiap-siap menuju kantor masing-masing. Berbeda dengan saya, yang dengan pakaian andalan saat hari raya telah siap-siap menuju mesjid.

Ayah saya memilih berlebaran sesuai putusan pemerintah. Suatu hal yang aneh bagi saya, karena selama ini beliau saya tahu konsisten dengan keputusan muhammadiyah. Baru kali ini beliau terlihat bimbang. Barangkali kebimbangan beliau juga disebabkan oleh keputusan di negeri arab, yang memutuskan bahwa wukuf di arafah bersamaan dengan hari raya idhul adha versi muhammadiyah.

Padahal yang saya pahami bahwa puasa arafah yang jatuh pada tanggal 9 dzulhijjah tidak harus sertamerta menunggu para jamaah haji wukuf di arafah. Rasulullah SAW telah menamakan puasa arafah sebelum umat muslimin mengenal yang namanya wukuf. Bahkan para sahabat nabi telah mengenal puasa arafah meskipun mereka belum di perintahkan untuk menunaikan ibadah haji.

Jadi hemat saya, apakah kita harus menunggu jamaah haji melaksanakan wukuf baru akan berpuasa arafah ? kalaupun harus demikian, bagaimana jika (semoga tidak pernah terjadi) terjadi bencana atau peperangan yang menyebabkan tidak ada jamaah haji yang melaksanakan wukuf di arafah ? Apakah kita tidak akan menunaikan puasa arafah ?

*****

Penetapan Idhul Adha di Indonesia tahun ini kembali berbeda. Pemerintah dengan metode rukyat hilal, yaitu melihat visibilitas hilal secara langsung, menetapkan tanggal 1 dzulhijjah 1436 H jatuh pada hari selasa, 15 september 2015. Sehingga, Idhul Adha jatuh pada tanggal 24 September 2015.

Berbeda dengan Muhammadiyah. Organisasi yang dikenal warga Indonesia selalu berbeda dengan pemerintah dalam menetapkan hari raya, memutuskan untuk berlebaran Idul Adha lebih dulu daripada pemerintah Indonesia. Hal ini bukan semata-mata karena ego organisasi ataupun karena muhammadiyah lebih dahulu berdiri daripada ormas-ormas islam Indonesia yang lain.

Berdasarkan maklumat putusan Majelis PP majelis tarjih muhammadiyah, sejak jauh hari (sebelum Ramadhan) telah menetapkan tanggal 1 Dzulhijjah jatuh pada hari Senin, 14 September, hari arofah (9 Dzhulhijjah) jatuh pada hari Selasa tanggal 22 September 2015 dan Idul Adha jatuh pada hari Rabu 23 September 2015.

Pengambilan putusan ini dilakukan dengan menggunakan metode yang berbeda dengan metode yang dipakai oleh pemerintah. Dengan menggunakan metode hisab, yakni metode untuk menentukan awal bulan qamriah (bulan baru dalam penanggalan hijriah) dengan perhitungan matematis berdasar posisi geometris benda langit.

Menurut perhitungan Muhammadiyah, Ijtimak jelang Zulhijah 1436 H terjadi pada hari Ahad Kliwon, 13 September 2015 M pukul 13:43:35 WlB. Tinggi Bulan pada saat terbenam Matahari di Yogyakarta (-07° 48′ LS dan 110° 21′ BT) = +0° 25′ 52” (hilal sudah wujud).

Secara pribadi dan tanpa paksaan serta ikut-ikutan, saya lebih memilih meyakini metode hisab daripada metode rukyat. Bukan tanpa alasan, menurut saya di era yang sudah modern ini, yang tentunya sudah ditunjang dengan ilmu pengetahuan dan alat yang sudah canggih tidak mustahil bagi manusia saat ini untuk menentukan hari raya sampai puluhan tahun kedepan.

Metode hisab ini pula di tunjang dengan ayat Al – Qur’an yaitu “Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan” (QS. 55:5). Menurut Prof. Dr. Syamsul Anwar, M.A, Ayat ini bukan sekedar menginformasikan bahwa matahari dan bulan beredar dengan hukum yang pasti sehingga dapat dihitung atau diprediksi, tetapi juga dorongan untuk menghitungnya karena banyak kegunaannya. Dalam QS. Yunus (10) ayat 5 disebutkan bahwa kegunaannya untuk mengetahi bilangan tahun dan perhitungan waktu.

Metode rukyat bukan sama sekali metode yang salah. Metode ini pula dulunya yang dipakai oleh rasulullah SAW pada zamannya. Bukan tanpa alasan, dulunya ummat zaman Nabi SAW adalah ummat yang ummi, yakni umat yang tidak kenal baca tulis dan tidak memungkinkan melakukan hisab. Ini pula ditegaskan oleh Rasulullah SAW dalam hadits riwayat Al Bukhari dan Muslim, “Sesungguhnya kami adalah umat yang ummi; kami tidak bisa menulis dan tidak bisa melakukan hisab. Bulan itu adalah demikian-demikian. Yakni kadang-kadang dua puluh sembilan hari dan kadang-kadang tiga puluh hari.”

Kekurangan dari metode rukyat ini menurut saya adalah metode ini tidak dapat jadikan pedoman untuk membuat kalender. Metode rukyat tidak dapat menentukan atau meramal tanggal jauh-jauh hari kedepan karena tanggal baru dilakukan dengan pengamatan langsung pada H-1. Intinya, metode rukyat tidak dapat memberikan penandaan waktu yang pasti.

Perbedaan-perbedaan yang terjadi lantas bukan menjadi suatu masalah yang harus dibesar-besarkan. Bagi saya, perbedaan yang tentunya terjadi bukan karena ego masing-masing. Tentunya ada landasan dan dalil kuat yang dianut oleh pemerintah maupun muhammadiyah. Tugas kita adalah bagaimana berusaha mempelajari kedua metode ini, dan menentukan pilihan. Bukan hanya ikut-ikutan dan menjastifikasi yang benar dan yang salah tanpa suatu landasan.

Kenapa perbedaan ini tidak bisa disatukan saja? Tentunya bukan suatu perkara yang mudah. Karena ini menyangkut dengan keyakinan. Sama saja ketika kita ingin memaksakan orang memeluk agama yang kita yakini. Solusi terbaik adalah menanggapi perbedaan ini dengan bijak, santai kayak dipantai. Tidak perlu dibesar-besarkan, saling menyalahkan bahkan dijadikan pemicu suatu perpecahan.

Selamat hari raya idhul adha.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s