Makam Datuk ri Tiro dan Tradisi Peziarah

Libur panjang hari raya telah usai. Setiap perjalanan selalu menyisakan cerita dan kisah. Rugi rasanya apabila berlibur namun hanya foto-foto narsis yang hanya dapat dipamerkan di sosial media.

Libur hari raya saya manfaatkan berkunjung ke butta panritta lopi bersama kak Lelakibugis, dan Nunu Asrul. Meskipun perjalanan ini merupakan perjalanan dinas Nunu dan merupakan trip dadakan, kami tidak mau menyia-nyiakan tanpa mengunjungi destinasi wisata.

Bulukumba, daerah yang berjarak kurang lebih 200 Km dari kota Makassar ini memang memiliki potensi wisata yang besar. Pantai-pantai berpasir putih yang indah bertebaran di daerah ini. Selain destinasi wisata bahari, Bulukumba juga memiliki destinasi budaya yang tak kalah menarik dengan spot-spot wisata baharinya, yaitu Kajang.

Namun, perjalanan kami saat itu bukan untuk wisata bahari maupun budaya. Kami mengunjungi dan mencoba melacak jejak sejarah penyebaran islam di Makam Datuk ri Tiro. Makam ini terletak di Dusun Hila-Hila Kecamatan Bonto Tiro.

Datuk ri Tiro merupakan salah satu dari tiga orang Datuk yang menyebarkan agama Islam di Sulawesi Selatan. Bersama Datuk ri Bandang dan Datuk Patimang, mereka berangkat dari tanah Sumatera ke Sulawesi Selatan dalam misi Islamisasi pada abad ke-17.

Mereka membagi 3 wilayah penyebaran Islam. Dato ri Tiro menyebarkan Islam di daerah selatan (Bulukumba dan sekitarnya), sedangkan Dato Patimang menyebarkan Islam di daerah utara (Suppa, Soppeng, Luwu), kemudian Dato ri Bandang menyebarkan Islam di daerah tengah (Gowa, Takalar, Jeneponto dan Bantaeng).

*****

10413334_1050601888283969_8522946324058642453_n

Pemakaman sekitar Makam Datuk ri Tiro (foto: @nunuasrul)

Makam Datuk ri Tiro terlihat tidak begitu mencolok. Tegel-tegel putih kecil dan cat tembok yang sudah sedikit agak menguning mengelilingi makam ini. Bahkan makam Al Maulana Khatib Bungsu Syaikh Nurdin Ariyani –nama lengkap Datuk ri Tiro- berada di kompleks pemakaman umum setempat.

Makam ini sudah dikelola oleh sebuah yayasan swasta milik masyarakat setempat. Baru setelah dikelola oleh yayasan, makam Datuk ri Tiro dibangun. Gerbang makam yang sudah harus diremajakan menyambut kedatangan kami. Begitu masuk ke dalam, para peziarah diwajibkan untuk melapor dan membayar biaya administrasi terlebih dahulu sebesar 12.000 rupiah per orang.

Sayangnya saat kami datang tarif itu tidak berlaku.Kami dikenakan tarif 40.000 rupiah untuk 3 (tiga) orang. Entah dengan alasan apa, si petugas administrasi tidak menjelaskan sama sekali.

Setelah menyelesaikan perihal administrasi,kami diantar oleh seorang Pria tua dengan setelan sarung lusuh dan kopiah tua. Pak Saparuddin yang telah 10 tahun menjadi penjaga makam ini, membawa kami masuk di dalam sebuah kamar yang berukuran cukup luas. Di dalam ruangan itulah Dato ri Tiro bersemayam.

Bersama Pak Saparuddin (foto : @nunuasrul)

Pak Saparuddin selaku penjaga dan juga guide makam, memulai ritualnya dengan mempertanyakan alasan kedatangan kami. Mulutnya kemudian komat kamit membacak doa. Entah doa apa, saya yang berada disampingnya tidak bisa mencerna baik doa apa yang ia lafazkan.

Ritual selanjutnya menaburkan bunga. Pak Saparuddin menganjurkan kami menaburkan bunga ke makam. Karena persiapan kami yang terbatas, maka kami hanya mengambil bunga yang sudah bertebaran di makam dan kemudian manaburkannya berulang-ulang kali. Bunga ini pun tidak gratis, kami merogoh gocek puluhan ribu rupiah untuk sebagai biaya ganti bunga.

Ritual terakhir adalah menaruh tangan di nisan sambil berdoa ataupun bernazar. Nisan yang terbuat dari kayu itu terbuat sejak Datuk ri Tiro wafat. “belum pernah diganti” tutur Pak Saparuddin. Nisannya berminyak. Selain itu banyak pula bekas lilin peninggalan para peziarah. Semuanya kata Pak Saparuddin merupakan peninggalan para peziarah sebelumnya.

12063521_1050601798283978_3055758636761692231_n(1)

Nisan Datuk ri Tiro (foto : @nunuasrul)

Menurut Pak Saparuddin, banyak pengunjung yang datang ke makam ini untuk menunaikan nazar mereka. Nazarnya beraneka macam. Ada yang meminta panennya lancar, ada yang meminta mobil,motor, dan berbagai kebutuhan manusia. Ketika nazar mereka terpenuhi, mereka akan kembali lagi sebagai bentuk rasa syukur karena permintaannya dikabulkan. Tak jarang ada yang membawa ayam,kambing untuk dipotong.

*****

Tak lama setelah ritual kami usai, peziarah lain datang. Sepasang suami istri datang menunaikan nazar mereka. Pak Bram dan Ibu Diana yang berasal dari bulukumba datang dengan membawa mobil barunya. Mobil ini mereka dapatkan konon setelah mereka meminta dari makam Datuk ri Tiro.

Ini bukan sesuatu yang baru bagi mereka. “dua mi mobilku, kuminta semua disini “ kata Bu Diana. Selain dua unit mobil, ternyata sudah ada lima unit motor sebelumnya, dan kesemuanya mereka minta di makam ini. Ritual seperti ini konon sudah menjadi tradis di keluarga mereka.

12039233_1050601868283971_1919924309845690728_n

Pak Bram, Ibu Diana dan Pak Saparuddin (foto: @nunuasrul)

Inilah tradisi yang lahir di tanah butta panrita lopi. Melalui makam ini, banyak orang datang untuk meminta apa yang mereka inginkan. Bahkan kata Penjaga makam, orang cina juga sering datang ke makam ini untuk meminta kelancaran usaha mereka.

Segelintir orang percaya lewat makam ini, keinginan mereka dapat terpenuhi. Dengan bernazar di makam ini, rezeki mereka akan lancar. Mereka meminta dan percaya bahwa makam ini mampu mengabulkan keinginan mereka.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s