Mencari Ketenangan, Jangan Di Danau Tanralili

Suasana perkotaan begitu memuakkan. Apalagi akhir-akhir ini kejahatan oknum begal merajalela. Begitupun dengan gambar ataupun video kekerasan yang bertebaran di sosial media. Seakan kekerasan itu bukan suatu hal yang mengerikan. Sepertinya kita butuh piknik. Pergi meninggalkan kota ini. Guna mendapatkan ketenangan

Kedatangan saya kali untuk kesekian kalinya di Danau yang terbentuk pada tahun 2004 akibat mega longsor Gunung Bawakaraeng. Kali ini saya bersama Idham, Nuim dan Safar menemani Kak Mail beserta Istrinya dan dua orang mahasiswa asing yang belajar di Unismuh, Yasmina dari Al-Jazaer dan Minato Moriyama dari Jepang.

12079117_752337861558497_8098288516458681463_n

Minato dan Yasmina (foto : Minato Moriyama)

Sekitar pukul 11.00 pagi kami tiba di basecamp. Warga sekitar dusun bawakaraeng sangat ramah kepada para pendaki yang datang. Beberapa rumah telah terpasang papan penanda “Tempat Parkir”. Berbeda ketika saat pertama kali saya datang ketempat ini. Hanya ada 3 tempat untuk menyimpan kendaraan, Gedung Pengamatan Longsor, Rumah Imam Desa, dan satunya adalah Rumah salah seorang warga yang dituakan.

Kami memarkir kendaraan di Rumah Imam Desa. Melihat kedatangan kami, Istri Imam Desa segera menyiapkan jamuannya. Betapa senangnya mereka melihat kami datang. Walaupun sama sekali kami tidak ada hubungan darah. Keramahan yang sudah pudar di masyarakat perkotaan.

Dulunya, rumah ini dijadikan sebagai tempat registrasi. Namun sekarang tidak lagi. Menurut Pak Imam, setelah tragedi pendaki yang tenggelam, masyarakat setempat dan para aparatur desa sepakat membuat peraturan bagi para pengunjung. Aturan itu melibatkan para pemuda-pemuda desa. Salah satu diantaranya adalah para pemuda ditugaskan menjadi petugas administrasi Danau Tanralili.

12096119_10204056780054851_1571470281987417163_n

Pos Registrasi (Foto : Fitry)

Setelah berpamitan, kami segera melanjutkan perjalanan menuju Danau Tanralili. Terik matahari tidak mengurangi semangat kami. Begitupun para pemuda setempat. Melihat kami datang, mereka segera mengeluarkan buku administrasi. Tak hanya sekadar mencatat nama, kami diharuskan menyimpan nomor telepon sanak keluarga. “Untuk jaga-jaga saja Kak, jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan” kata pemuda itu.

Setelah proses administrasi, kami diharuskan mengeluarkan seluruh ransum yang kami bawa. Mereka mencatat seluruh ransum, dan menegaskan kepada kami harus membawa pulang sampah ransum kami. Saya kagum dengan peraturan seperti ini. Harusnya aturan-aturan seperti ini berlaku disemua spot-spot wisata alam. Banyak pengunjung tidak peduli dengan hal ini. Sanksinya pun tidak main-main. Satu saja puntung rokok yang tertinggal, akan dikenakan denda.

*****

Nuim menjadi Leader dalam perjalan ini. Saya dan Idham memilih berjalan paling belakang. Yasmina dan Minato terlihat begitu semangat. Jalur tracking perdana dengan kemiringan sekitar 80 derajat mereka libas. Berbeda dengan Kak Mail dan Istrinya. Pasangan ini terlihat saling menyemangati satu sama lain. Kak Fitry –Istri Kak Mail- sangat sulit melangkahkan kakinya. Ini merupakan trip perdananya dalam berkegiatan di Alam bebas.

Tak henti-hentinya kami beri semangat kepada Kak Fitry. Entah sudah berapa kali kalimat “sudah dekat mi Kak” keluar dari mulutku. Hal ini guna membakar semangatnya. Sementara Nuim, Safar, Yasmina dan Minato sudah jauh meninggalkan kami.

Langkah demi langkah mengarungi tanjakan. Terik matahari yang begitu menyengat kulit ikut membantu menghabisi tenaga kami. Belum lagi sepanjang jalur begitu kering. Debu beterbangan kesana kemari. Tanjakan terakhir berhasil kami lewati tentunya dengan sisa –sisa semangat kami.

Semangat kembali membara ketika dari kejauhan Danau Tanralili sudah terlihat. Pesona alam yang menjanjikan ketenangan. Jauh dari keramaian kota. Jauh dari rasa was-was akan kejahatan yang belakangan ini sering terjadi di Kota. Jauh dari sosial media yang penuh dengan video kekerasan.

Carrier dipunggungku sudah kubuang. “Akhirnya, sampai juga” dalam benakku. Nuim, Safar, Idham, Minato dan Yasmina membangun camp sekitar Danau. Saya dan Kak Mail beserta Istrinya memilih beristirahat sejenak.

12047107_752337954891821_3153928612540985174_n

Membangun Tenda (foto : Minato Moriyama)

Terik matahari tak mengurangi semangat para junior-juniorku ini -Idham, Nuim dan Safar-. Yasmina dan Minato terlihat begitu antusias membantu mereka. Tiga tenda berdiri. Setelah memastikan semua tenda aman dan terpasang baik, tibalah waktunya mengisi perut yang sudah keroncongan.

Sembari menikmati makanan, kami tak henti-hentinya menertawakan Minato yang mukanya berwarna merah. Ia mengompres wajahnya dengan handuk biru yang ia bawa. Wajahnya memerah akibat panas matahari. Berbeda dengan kami, kulit kami justru berubah agak gelap.

*****

Angin bertiup kencang, udara dingin menusuk tulang kami. Pertanda hari sudah gelap. Jaket dan benda apapun yang dapat menghangatkan kami gunakan sesegera mungkin. Guna menghangatkan badan, kopi panas menjadi santapan kami. Malam itu kami beruntung. Bintang-bintang bertaburan di langit gelap. Begitu egoisnya bintang ini sampai tempat untuk bulan untuk menampakkan dirinya tidak ada sama sekali. Sangat banyak bintang malam itu.

Pendaki-pendaki lain tak henti-hentinya berdatangan. Tempat camp yang tadinya lowong berubah mirip perumahan-perumahan di perkotaan. Tetangga-tetangga sekitar terlihat sangat ramah. Begitupun pendaki lain, setiap lewat depan camp kami selalu saja terlontar dari mulut mereka “tabe kanda”. Sering pula teriakan-teriakan kami dengar. “Mungkin mereka kedinginan” dalam benakku.

Malam semakin larut dan udara bertambah dingin. Satu persatu kami masuk dalam tenda. Sayapun tidak kebagian space dalam tenda karena terlalu lama bermain-main. Dengan hanya menyisahkan sleeping bag, saya terpaksa tidur diluar tenda. Dengan beralaskan matras dan beratapkan flysheet saja.

Saya berusaha menutup mata rapat-rapat. Namun selalu saja terganggu dengan “konser-konser” ataupun raungan dan teriakan para pendaki lain. Senter-senter yang mengarah ke camp juga sangat mengganggu. Saya tidak bisa tidur nyenyak malam itu.

Perilaku-perilaku para pendaki, atau traveler itu sangat mengganggu. Kebiasaan dari kota mereka bawa ke tempat ini. Padahal tidak semua pendaki yang datang mau bersorak-sorak gembira seperti mereka. Mau berteriak sepanjang malam, bahkan sampai pagi hari “konser” dengan gitar mereka. Sebagian kecil –termasuk kami- bertujuan untuk mencari ketenangan di tempat ini.

Kami maklum apabila mereka bersuka ria disana, hanya saja, tolong ingat waktu. Apa mereka tidak berpikir kalau konser,raungan dan teriakan-teriakan mereka mengganggu kami yang ingin beristirahat tenang? Ataukah mereka sama sekali memang tidak beristirahat di malam hari? “you are like animals, screaming auuhhh…awuooo…huuuoooo… I cannot sleep” kata Yasmina.

12144700_10204057960564363_2824874628252980459_n

(Foto : Ismail)

Suasana di Kota, sudah pindah di Gunung. Bepergian di Alam bebas sudah tidak menjamin ketenangan lagi. Segelintir orang yang tidak punya etika sebagai pendatang atau tamu telah memenuhi Danau ini. Pantas saja para pecinta alam bilang “Kalau ada spot-spot traveling yang bagus jangan terlalu dishare di media sosial, nanti banyak anak gaul yang datang”

Iklan

3 pemikiran pada “Mencari Ketenangan, Jangan Di Danau Tanralili

  1. Ketika alam tidak lagi senyaman yang seharusnya,,
    Penasaranka dengan tanralili.. betulan ramai banget? Kapan mauki ajakka kesana 🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s