Dengan Mengajar Kita pun Belajar

Teachers have three loves : love of learning, love of learners, and the love of bringing the first two loves togetherScott Hayden

Mengajar aktifitas yang beberapa tahun terakhir mengisi hari-hari saya. Sejak menyelesaikan program sarjana tahun 2013 lalu, mengajar menjadi hal yang baru dalam hidup saya. Apalagi konsentrasi program studi sarjana saya adalah pendidikan bahasa inggris. Kami –mahasiswa bahasa inggris- dirancang sedemikian rupa untuk menjadi tenaga pengajar bahasa inggris. Jadi sudah menjadi tanggung jawab seorang mahasiswa FKIP (fakultas keguruan dan ilmu pendidikan) jurusan pendidikan bahasa inggris seperti saya untuk menjadi seorang pendidik.

Masih kekal dalam ingatan saya begitu pertama kali menjadi seorang “guru” dalam kelas dan tentunya suasana yang formal. Saat itu, ketika memasuki semester VI, seluruh mahasiswa FKIP diturunkan ke Sekolah-Sekolah untuk praktek mengajar. Lewat praktek itulah kami berproses untuk mendidik.

Berbekal pengalaman mata kuliah dan kegiatan-kegiatan lembaga mahasiswa, Saya beranikan diri memulai kelas pertama pagi itu. Setelah ritual kelas yang dipimpin oleh sang ketua kelas, saya membuka kelas dengan mengucapkan salam kepada seluruh siswa. Begitu semangatnya mereka menjawab salamku saat itu.

Badanku mulai gemetaran begitu saya memperkenalkan diri pada mereka –siswa sekolah-. Suara yang juga ikut bergetar mengurangi rasa percaya diriku. Suasana kelas seketika hening. Saya tidak tahu harus mulai dari mana. Saya tidak tahu harus berbuat apalagi. Apa yang kemudian akan saya ajarkan. Bagaimana kalau saya tidak bisa mengajar seperti guru mereka sebelumnya. Beginikah rasanya berdiri dihadapan peserta didik? I’m in bad situation dude, speechless!

Tetes keringat terus berjatuhan ketika Introduction Session selesai. Dalam benakku kemudian terlintas “dari pada saya terus yang gemetaran, sekarang giliran mereka –siswa- yang harus memperkenalkan diri”. Saya mulai dengan games warming up, yang kalah naik satu persatu memperkenalkan diri.

It worked! Akal bulusku lumayan mencairkan suasana. Rasa grogi pun lambat laun berkurang. Suasana kelas semakin cair. Begitupun kemeja putihku yang basah telah mengering.

Pengalaman pertama mengajar hari itu ku ceritakan kepada teman-temanku. Mereka tertawa terbahak-bahak. “Begitu ji juga kita semua ini, dumba-dumba ki nda tahu mau bilang apa” cetus salah seorang temanku. Kami semua mendapatkan pengalaman sama. Selain karena ini merupakan hari pertama kami menjadi “guru”, kami juga tidak tahu apa yang harus kami ajarkan.

*****

Pengalaman itu menjadi momok menakutkan sekaligus memalukan. Sehingga malam sebelum saya masuk mengajar, saya mempersiapkan diri sebaik mungkin. Dengan bekal silabus dan RPP (rencana pelaksanaan pembelajaran) sekolah, saya merancang materi yang akan saya ajarkan. Saya berharap dengan persiapan yang matang, saya bisa mengajar dengan baik, minimal tidak memalukan seperti hari pertama itu. Tidak menjadi mayat hidup dihadapan siswaku.

Malam itu saya belajar keras. Saya mengupas tuntas materi yang akan saya ajarkan esok hari. Saya beranggapan bagaimana mau mengajar sementara kita tidak tahu apa yang ingin kita ajarkan. Bagaimana kalau siswa bertanya dan kita tidak tahu mau menjawabnya? Bukankah ini sangat memalukan?

Keesokan harinya saya siap untuk mengajar. Namun ketika memulai kelas masih saja saya grogi. Walaupun tidak seperti waktu pertama kali berada di tempat ini.

Tanpa kendala sama sekali saya menjelaskan materi-materi kepada siswaku. Tentunya dengan berusaha menggunakan bahasa Inggris semaksimal mungkin dalam menyajikan materi yang telah saya buat. Sayangnya ketika saya memberi umpan balik dengan melancarkan kalimat “do you understand?” mereka semua terdiam. Entahkah mereka sudah benar-benar mengerti atau benar-benar tidak mengerti.

Begitu kelas selesai, saya bertemu dengan guru-guru bahasa Inggris sekolah itu. Saya berdiskusi dan sedikit curhat tentang kejadian-kejadian yang saya alami. Dengan bijaknya beliau –Sang Guru- mengatakan “tidak usah full berbahasa inggris dek kalau mengajar. Kasihan siswa tidak mengerti apa yang kamu bilang. Sebaiknya kamu combine saja dengan bahasa Indonesia. Supaya mereka mengerti”.

Saya berusaha menunjuk kepada siswa kalau saya lancar berbahasa Inggris. Bagaimana mahasiswa bahasa Inggris mengajar tetapi tidak menggunakan bahasa Inggris? saya takut malu. Ternyata itu keliru. Saya tidak memikirkan apakah para siswa saya mampu menerjemahkan dengan baik apa yang saya sampaikan. Pula esensi dalam mengajar adalah mentrasferkan ilmu pengetahuan, jadi bukan mengajar jikalau para siswa tidak mengerti sama sekali.

Lagi-lagi pelajaran baru yang saya dapatkan. Ternyata sebagai guru, kita harus benar-benar mengerti apa yang dibutuhkan siswa. Untuk tingkat pendidikan seperti mereka (SD,SMP dan SMA), mustahil rasanya mereka dapat memahami apa yang seorang guru jelaskan apabila Sang guru itu menyajikan materi dengan full berbahasa Inggris. Bukankah di Indonesia, Bahasa Inggris merupakan foreign language? Bukan first ataupun second language.

*****

Hari ke hari saya semakin nyaman mengajar. Selama dua bulan PPL, ada banyak pengalaman baru yang saya dapatkan. Walaupun dalam perjalanannya, masih banyak kekurangan-kekurangan dalam mengajar tapi setidaknya saya belajar bagaimana menjadi guru.

Bekal yang saya dapatkan saat PPL itu sungguh sangat berharga. Rugi rasanya jika mahasiswa keguruan yang PPL di sekolah tidak dapat memetik banyak pengalaman berharga. Rugi jikalau mereka tidak belajar merancang RPP, membuat bahan ajar, me-manage kelas dengan baik, menyelesaikan konflik yang terjadi dalam kelas dan dinamika-dinamika yang terjadi selama proses pembelajaran dalam kelas.

Mengajar bukanlah pekerjaan yang mudah. Mengajar merupakan keterampilan yang apabila sering diasah akan semakin bagus. Semakin sering mengajar, maka kita pula akan terus menerus belajar.

Iklan

2 pemikiran pada “Dengan Mengajar Kita pun Belajar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s