Kekerasan, Media dan Aksi Mahasiswa

Seperti biasa tiap saya membuka kelas, saya selalu berusaha memancing respon mahasiswa yang saya ajar terkait isu-isu sosial yang berkembang. Walaupun terkadang tidak nyambung, saya beranggapan mereka perlu diberi asupan seperti ini, mereka perlu menganalisis dan berargumen mengenai isu-isu sosial yang berkembang, bukankah tugas mereka sebagai social control?

Hari ini saya mengangkat mengenai isu tentang Kongres HMI di Pekanbaru, Riau yang menjadi trending topic di berbagai media. Respon dari mereka datar-datar saja. “Bukan Makassar Pak kalau tidak rusuh” Jawab salah seorang mahasiswa saya yang sontak membuat saya tertegun. Rata-rata mereka menganggap biasa saja. “sudah sering terjadi pak” tambah teman sebangkunya.

Begitulah stigma negatif yang lahir akibat sudah terbiasanya mereka –mahasiswa Makassar- melihat aksi-aksi vandalisme yang sering terjadi di kalangan mahasiswa.

Aksi-aksi vandalisme tersebut lantaran menjadi santapan renyah bagi para awak media. Bisa kita saksikan bagaimana media-media kita saat ini begitu senangnya mengangkat isu-isu yang identik dengan aksi kekerasan.

Bukan hanya media, para netizen yang saat ini mampu mengakses internet 24 jam di tangan mereka begitu mudahnya menyebarluaskan berita-berita kekerasan tersebut. Baik foto maupun video sudah sangat mudah kita temukan di berbagai media sosial.

Kekal dalam ingatan saya tentang video pengeroyokan dan penembakan begal yang beredar di media sosial beberapa bulan lalu. Dalam video yang berdurasi cukup panjang itu, netizen dipertontonkan aksi kekerasan massa terhadap pelaku begal yang tertangkap. Bagaimana Si Pelaku diseret sepanjang jalan dan dihujani bogem mentah dari masyarakat. Di video itu tergambarkan bagaimana beringasnya masyarakat kita.

Netizen secara tidak sadar mengajarkan masyarakat umum untuk menghakimi sendiri pelaku kejahatan. Ketakutan saya adalah bagaimana ketika video tersebut ditonton oleh anak-anak kecil, remaja dan orang-orang yang tidak bijak dalam menanggapi sesuatu?

Sebuah survei pernah dilakukan Christian Science Monitor (CSM) tahun 1996 terhadap 1.209 orang tua yang memiliki anak umur 2 – 17 tahun. Terhadap pertanyaan seberapa jauh kekerasan di TV mempengaruhi anak, 56% responden menjawab amat mempengaruhi. Sisanya, 26% mempengaruhi, 5% cukup mempengaruhi, dan 11% tidak mempengaruhi.

Hasil penelitian Dr. Brandon Centerwall dari Universitas Washington memperkuat survai itu. Ia mencari hubungan statistik antara meningkatnya tingkat kejahatan yang berbentuk kekerasan dengan masuknya TV di tiga negara (Kanada, Amerika, dan Afrika Selatan). Fokus penelitian adalah orang kulit putih. Hasilnya, di Kanada dan Amerika tingkat pembunuhan di antara penduduk kulit putih naik hampir 100%. Dalam kurun waktu yang sama, kepemilikan TV meningkat dengan perbandingan yang sejajar. Di Afrika Selatan, siaran TV baru diizinkan tahun 1975. Penelitian Centerwall dari 1975 – 1983 menunjukkan, tingkat pembunuhan di antara kulit putih meningkat 130%. Padahal antara 1945 – 1974, tingkat pembunuhan justru menurun (Kompas, 20-3-1995).

Centerwall kemudian menjelaskan, TV tidak langsung berdampak pada orang-orang dewasa pelaku pembunuhan, tetapi pengaruhnya sedikit demi sedikit tertanam pada si pelaku sejak mereka masih anak-anak. Dengan begitu ada tiga tahap kekerasan yang terekam dalam penelitian: awalnya meningkatnya kekerasan di antara anak-anak, beberapa tahun kemudian meningkatnya kekerasan di antara remaja, dan pada tahun-tahun akhir penelitian di mana taraf kejahatan meningkat secara berarti yakni kejahatan pembunuhan oleh orang dewasa.

Semua temuan di atas memiliki kaitan dengan video kekerasan yang sering disebar oleh para netizen begitupun media, apa bedanya video dan TV ? Saya rasa tidak ada perbedaan signifikan. Semua dapat mempengaruhi perilaku penontonnya, apalagi anak-anak.

Jadi jangan heran jika suatu saat nanti kekerasaan itu sudah dianggap sebagai hal yang biasa-biasa saja oleh masyarakat kota ini. Ini semua tidak lepas dari kelakuan segelintir orang yang mungkin tidak sadar akibat video kekerasan yang mereka sering sebar di media sosial mereka.

Saya khawatir kita secara tidak sadar melahirkan generasi yang sudah sangat terbiasa dengan kekacauan, kebrutalan dan tindakan kriminal-kriminal lainnya. Saya bayangkan suatu saat nanti ketika kekerasan, kejahatan terjadi orang-orang tidak begitu takut dan heran, bahkan sama sekali tidak peduli.

******

Mahasiswa Makassar memang secara tidak sadar membangun stigma negatif terkait aksi demonstrasi yang selalu diberitakan berujung bentrok dengan aparat maupun oknum masyarakat. Begitu pula pihak media yang senang mengangkat berita seperti itu ketimbang aksi-aksi damai yang dilakukan mahasiswa. Jadi semacam ada symbiosis parasitisme yang terjadi, dimana ada salah satu pihak yang dirugikan. Mereka -mahasiswa- pun tidak sadar akibat aksi-aksi demonstrasi mereka, akan berimbas kepada seluruh masyarakat asal Makassar.

Muhallim, alumnus Universitas Muhammadiyah Makassar yang melanjutkan studi program magisternya di Kota Malang menceritakan bagaimana efek dari aksi demonstrasi mahasiswa Makassar. Ia menuturkan bahwa stigma negatif mengenai mahasiswa makassar menjadi bahan cerita tiap ia ketemu dengan orang baru. “Hampir tiap ketemu orang baru, mereka selalu bertanya kenapa mahasiswa makassar begitu ?” sesalnya.

Stigma negatif ini lahir tak hanya akibat ulah mahasiswa itu sendiri, kalaupun mungkin karena ulah mahasiswa itu sendiri, setidaknya media-media kita berimbang dalam menyebar berita-berita tentang mahasiswa, khususnya mahasiswa Makassar.

Mungkinkah media kita masih berpegang teguh dengan prinsip “bad news is a good news” bagi mereka ?

Mansyur Rahim yang akrab disapa Lelakibugis blogger asal kota Makassar melihat hal yang sama terkait pola pemberitaan media saat ini. Ia menyarankan sebaiknya mahasiswa harus segera menemukan metode aksi yang baru dan jangan terjebak pada maunya media. “harusnya mahasiswa sadar kalau aksi mereka dimuat media, tapi bukan esensi aksi tapi dampak buruk dan citra buruknya” terang alumni sastra unhas ini.

Berita miring mengenai kongres HMI sebaiknya segera mendapat counter yang cepat. Jangan dibiarkan begitu saja. HMI cabang kota Makassar ataupun mahasiswa HMI asal Sulawesi selatan sesegera mungkin mengklarifikasi berita tersebut, baik mengenai persoalan di rumah makan, persoalan senjata tajam, dan persoalan-soalan lainnya yang dapat merusak citra mahasiswa asal Makassar.

Jangan sampai akibat berita yang terus berkembang ini, pertanyaan “Mas, asal Makassar ya? Oh Makassar memang begitu ya? suka bentrok?” selalu menghampiri ketika kita bertemu dengan orang luar Makassar. [MZUH]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s