Belajar Berkebun, Susah-Susah Gampang!

Saya termasuk anak yang sangat jarang menghabiskan waktu bersama keluarga, terutama bersama Ayah saya. Waktu saya lebih habis bersama teman sejahwat di kampus dan di tempat nongkrong. Nanti disaat hari raya, acara keluarga atau saya ada keperluan barulah saya dan kedua orang tua berinteraksi.  

Begitupula dengan Ayah saya. Beliau berprofesi sebagai Widyaiswara di Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) Sulawesi Selatan. Beliau bertugas sebagai penatar atau pelatih guru, kepala sekolah dan pengawas sekolah. Hampir tiap bulan beliau selalu ditugaskan ke daerah tertentu untuk memberi pelatihan atau sekadar memenuhi undangan berbagi tentang dunia pendidikan beserta perangkatnya.

Ayah saya orang yang sibuk dengan pekerjaannya dan saya yang sok sibuk membuat kami jarang bertatap muka. Kalau kami menginap di rumah, kami tetap sulit untuk berinteraksi. Bagaimana tidak, Ayah saya berangkat kantor saat hari masih belia dan saya selalu terlambat bangun. Ayah pulang kantor saat hari sudah hampir gelap dan saya yang pulang saat malam hampir habis.  Benar kata orang bijak, waktu berharga itu memang sangat mahal.

Saya terkadang iri melihat teman-teman yang sangat akrab dengan Ayahnya. Mereka bisa menikmati secangkir kopi sembari berkisah berbagai hal. Suatu hal yang sangat jarang saya lakukan bersama Ayah saya.

Kemudian saat hari hampir gelap, tiba-tiba smartphone saya berdering dengan nada spesial yang sengaja saya setel untuk menandakan ada panggilan dari keluarga saya. Biasanya ayah saya menelpon hanya untuk mengabari, mengingatkan atau meminta untuk mengantar ke bandara dan terminal. “Pulang bermalam di rumah, besok pagi kita ke kebun tanam jagung” begitu sepenggal kalimat percakapan kami saat itu.

Ajakan yang sontak membuat saya bahagia. Padahal sore itu saya berencana menginap di kampus untuk menyelesaikan tesis saya yang tak kunjung selesai. Namun, kapan lagi saya bisa menghabiskan waktu bersama ayah saya, kalau tidak mengiyakan ajak beliau.

*****

Saat sebagian warga Indonesia mengisi hari libur mereka dengan bepergian ke TPS (Tempat Pemungutan Suara) untuk merayakan pesta demokrasi yang dilaksanakan secara serentak di 264 daerah, Saya beserta kedua orang tua memilih berwisata ke kebun sederhana milik ayah saya yang terletak kurang lebih 15 kilometer dari tempat kami tinggal. Kebetulan memang Makassar saat itu tidak merayakan pesta demokrasi, tak seperti di beberapa daerah lainnya.

Jpeg

Lahan Perkebunan Keluarga (dok. pribadi)

Selain berwisata, tujuan utama kami datang untuk menanam Zea Mays dan Manihot Utilissima agar nanti disaat pergantian tahun kami sudah bisa menikmati hasil kebun sendiri. Zea Mays adalah nama ilmiah dari jagung sedangkan Manihot Utilissima adalah nama ilmiah dari ubi kayu.

Jagung berasal dari derah tropis. Manihot Utilissima  Tanaman ini termasuk tanaman pangan penghasil karbohidrat yang penting di dunia, selain gandum dan padi. Jagung pula termasuk tanaman yang banyak ditemukan di lahan-lahan warga sekitar kebun kami. Jagung memang dapat tumbuh di berbagai jenis tanah, asalkan ketersediaan air dan hara tercukupi.

Walaupun ini merupakan pengalaman pertama saya, ternyata menanam jagung tidak terlalu begitu sulit. Cukup dengan membuat lubang yang tidak terlalu dalam, berkisar 1-3 cm di tanah yang tentunya sudah diolah terlebih dahulu (dibajak). Kemudian menanam 3-5 butir bibit jagung. Sebelum menanam bibit jagung, sebaiknya bibit tersebut direndam dengan air terlebih dahulu.

Bagian yang sulit dari proses menanam hingga memanen  jagung adalah perawatan tumbuhan jagung ini. “Menanamnya mudah, memeliharanya yang tidak mudah” Ujar Kak Enal pegiat komunitas Makassar Berkebun dan juga alumni Pertanian Universitas Hasanuddin. Menurutnya hal yang harus diperhatikan adalah pengendalian gulma di awal pertumbuhan tanaman jagung.

Gulma adalah tumbuhan yang kehadirannya tidak diinginkan pada lahan pertanian karena akan menurunkan hasil yang bisa dicapai oleh tanaman produksi. Untuk mengatasi tumbuhan liar ini dapat dilakukan dengan dua cara. Pertama adalah dengan mencabut atau membabat tumbuhan liar ini. Cara kedua adalah dengan menggunakan zat kimiawi yang disebut herbisida. Herbisida merupakan senyawa atau material yang disebarkan pada lahan pertanian untuk menekan atau memberantas tumbuhan yang menyebabkan penurunan hasil.

*****

“Istirahat mko dulu” titah ayah saat melihat saya berlindung dari teriknya matahari di bawah dangau (gubuk/rumah kecil) di sawah atau di ladang tempat orang berteduh untuk menjaga tanaman) kebun kami. Ternyata untuk orang baru seperti saya bercocok tanam cukup menguras tenaga saya. Padahal bibit jagung yang kami bawa tidak banyak. Namun rasanya tulang belakang saya mau patah.

Saya membayangkan betapa kuatnya petani kita yang menghabiskan waktu dari pagi hingga petang untuk menanam padi. Padahal di usia mereka yang sudah tidak lagi muda, mereka masih saja kuat mengolah lahan demi memenuhi kebutuhan mereka dan kebutuhan manusia-manusia lain.

Setelah bibit jagung terakhir kami tanam, barulah kami beranjak ke dangau kebun untuk menyantap bekal buatan ibu saya. Ibu yang juga ikut ke kebun telah menunggu kami di dangau tersebut. Dangau kebun kami sederhana, dindingnya terbuat dari seng dan beralaskan kayu.

Walaupun bekal kami sederhana, namun makan siang saya hari itu terasa begitu nikmat. Ini merupakan kali pertama kami makan bertiga dalam satu wadah. Persis seperti yang biasa saya lakukan bersama teman-teman di kampus.  Makan pada satu wadah kami yakini dapat mempererat tali persaudaraan. Dan seperti itu pula yang saya lakukan bersama kedua orang tua tercinta. Makan bersama di rumah sederhana yang berada di tengah-tengah lahan perkebunan.

Hujan datang sesaat setelah kami selesai makan siang, Mungkin ini adalah konspirasi alam yang menginginkan kami untuk tinggal lebih lama lagi. Untuk beristirahat setelah bersusah payah menjaga kelestarianya. Benakku berkata, waktunya meluruskan badan sejenak. Tidur siang bersama orang tua tercinta.

Saat hujan telah usai, penjaga kebun kami, Daeng Tayang bersama istri dan anaknya datang. Mereka dulunya adalah pemilik lahan kebun kami. Rumahnya berada tidak jauh dari kebun. Merekalah yang selama beberapa tahun terakhir menjaga dan mengolah kebun kami.
“Kalau sudah mko kawin nanti disini mko tinggal” kelakar ayah saya diikuti tawa lepas ibu dan keluarga Daeng Tayang. “Enakki kalau disini ko tinggal, tidak perlu mi beli sayur, mau makan tidak susah” tambahnya. Saya hanya bisa tertawa dalam hati. Saya hanya bertanya-tanya pada diri sendiri masih adakah seorang gadis kota  yang mau diajak tinggal di desa saat ini? Sedangkan fenomena saat ini gadis-gadis kota sudah sangat panik ketika telepon genggam mereka mati kehabisan daya ataukah paket dat internet mereka habis. Bagaimana mau tinggal di desa yang sinyal jaringan telepon saja tidak ada?

*****

Waktu rehat telah usai, Ayah bersama Daeng Tayang kembali turun ke lahan perkebunan. Daeng Tayang membawa puluhan batang ubi kayu. Ayah dan Daeng Tayang mengambil sebilah parang yang saya duga untuk memotong batang ibu kayu tersebut. Satu batang pohon ubi kayu ia potong menjadi beberapa bagian kecil berbentuk seperti stik drum. Bagian-bagian kecil inilah ternyata yang menjadi bibit untuk tanaman ubi kayu.

Penanaman-Singkong

Bibit Ubi Kayu (sumber : kaskus.co.id)

Bagi saya, ubi kayu merupakan tanaman yang banyak gunanya. Selain umbi akarnya yang biasa kita santap sebagai ubi goreng, daun tanaman ini pun dapat dijadikan sayur. Sayur daun ubi atau orang-orang Makassar (sulsel) biasa sebut sebagai sayur tuttu’.

Sekilas saya melihati menanam ubi kayu jauh lebih mudah dari menanam jagung. Cukup membuat lubang sedalam tiga sampai lima centimeter, batang tumbuhan ubi kayu yang telah dipotong menyerupai stik itu kemudian ditanam. Begitu saja, mudah bukan?

Ternyata tidak seperti itu. Menurut Daeng Tayang dalam menanam ubi kayu dibutuhkan ketelitian. Arah tunas bibit ubi kayu harus diperhatikan. Jangan sampai terbalik. Kita dapat melihat arah tunas di dekat buku-buku atau tonjolan bekas daun singkong yang lepas. Pada posisi tersebut dapat terlihat anak tunas (sering disebut mata). Pastikan anak tunas menghadap ke atas, agar tidak tumbuh terbalik.

dsc03710

Bibit Ubi Kayu yang Telah Tertanam (sumber : denielon.wordpress.com)

Hal senada disampaikan oleh Kak Enal. Ia menjelaskan pada dasarnya semua kembali pada konsep keadilan. “tempatkan sesuatu pada tempatnya” tegasnya. Kalau dipikir secara logika memang benar adanya. Kalau akarnya berada diatas, bagaimana mau tumbuh? Dimana-dimanakan akar, harus selalu berada dibawah. Begitu pula dengan tunas harus berada diatas supaya tanaman dapat tumbuh berkembang.

Berkebun ternyata kegiatan yang mengasyikkan. Kita juga dapat belajar bagaimana  bersusah payah terlebih dahulu, nanti kemudian akan menikmati jerih payah kita dari proses bertani. Belajar menjadi petani bukanlah hal memalukan, seperti kata Dana Stewart Scott “Belajarlah sebanyak kau bisa selagi kau muda, karena hidup nanti menjadi terlalu sibuk” [MZUH]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s