Saya Rindu Hukuman Guru Saya

Santer tersiar berita mengenai seorang guru sekolah menengah pertama (SMP) di kabupaten Bantaeng , Sulawesi Selatan mendekap di sel tahanan. Konon katanya sang pahlawan tanpa jasa ini dilaporkan oleh orang tua siswanya karena tidak menerima tindakan sang guru yang “menyubit” anaknya.

Menurut pengakuan orang tua korban yang juga berprofesi sebagai aparat keamanan, Guru SMP 1 Bantaeng bernama Nurmayani, tidak hanya menyubit anaknya. Nurmayani juga memukul dan melontarkan kata-kata tidak senonoh.

Beberapa bulan sebelumnya, peristiwa serupa juga terjadi di Makassar. Tepatnya tanggal 9 april 2016, seorang siswa sekolah dasar bernama Ramadhan mengalami luka lebam di bagian tangannya. Hal ini dikarenakan saat Wali kelasnya, Megawati melakukan pemeriksaan kuku. Megawati menganggap kuku Ramadhan panjang hingga ia memukul jemati tangan kiri siswanya itu.

Saya terkenang dengan peristiwa serupa yang saya alami saat masa sekolah dulu. Guru memberi hukuman kepada siswa yang nakal adalah hal lumrah. Bekas cubitan, pukulan penggaris, dan hukuman-hukaman fisik lainnya sering saya jumpai.

Beruntunglah guru-guru saya masa itu. Walau sekeras apapun mereka memperlakukan siswanya, tidak ada sama sekali protes dari orang tua kami. Bahkan ketika seorang siswa melapor ke orang tuanya karena mendapat hukuman dari gurunya, orang tua di rumah pasti malah menyalahkan anaknya. Tak jarang malah orang tua melanjutkan atau menambah hukuman yang lebih keras dari hukuman yang diberikan oleh sang guru di sekolah.

Memang saat itu orang tua kami masih menganut pepatah ‘Spare the rod, spoil the child’(jangan memakai cambuk dan anakmu akan jadi manja). Mereka –orang tua kami- percaya kalau tidak pernah menggunakan kekerasan (fisik) untuk menghukum anak yang bersalah, maka orang tua akan memanjakan atau merusak watak anak yang bersangkutan.

*****

Bagaimana di era sekarang? Apakah boleh seorang guru memukul siswa yang salah atau nakal? Saya yakin jawaban kebanyakan orang No, tentu tidak boleh. Apalagi para psikolog dan pakar pendidikan anak sering berkata hukuman fisik akan menimbulkan trauma psikis dan terus membekas pada kejiwaan anak sampai usia dewasa.

Apa memang betul demikian adanya? Saya rasa teori ini masih perlu didebatkan. Pasalnya saya dan beberapa teman sekolah seangkatan dulu tidak ada dendam atau trauma yang mendalam setelah mendapatkan sentuhan fisik dari guru kami.

Sentuhan fisik yang kami terima juga masih dalam tahap “wajar”. Guru kami tahu daerah-daerah vital yang tidak boleh mereka sentuh. Guru kamipun bukan orang gila yang seenaknya saja menghukum tanpa ada sebab.

Mereka terpaksa menghukum karena ingin mendidik kami, karena ingin membentuk karakter kami. Saya percaya, saya bisa menghapal perkalian bilangan karena takut mendapat hukuman dari guru saat itu.

“Kekerasan” sang gurulah yang membentuk saya seperti sekarang. Membuat saya menghormati dan menghargai orang yang lebih tua daripada saya.

Yah, tiap masa ada waktunya. Mungkin sekarang ‘Spare the rod, spoil the child’ sudah tidak berlaku lagi. Menurut saya, hal inilah yang menyebabkan fenomena kenakalan remaja lebih kelam lagi. Kalau dulu kenakalan remaja masa saya mencuri buah mangga tetangga sebelah rumah, sekarang anak-anak remaja sudah berani merampok minimarket. Dulu tiap sore kami naik-naik sepeda keliling kompleks, remaja sekarang lebih senang naik motor ugal-ugalan di jalan raya.

Ahh, saya rindu hukuman guru saya…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s